1 Desember 2012

Makalah kejadian alam semesta dalam pandangan Agama

Kejadian Alam Semesta Menurut Filosof Islam

Pada awal perkembangan Islam, sebenarnya kaum Muslimin tidak bermaksud mengutip pemikiran-pemikiran filsafat dari fihak mana pun. Bila kemudian terjadi perembesan sebagian ilmu-ilmu itu kepada orang Arab itu adalah akibat dari eratnya hubungan dengan bangsa-bangsa lain di sekitarnya yang terjadi sejak zaman jahiliyyah.

Pada masa Daulah Abasiyah, khalifah Al-Mansyur membangun kota Baghdad yang kemudian menjadi mercusuar di Timur dan jantung dunia Islam dalam kurun waktu yang amat panjang. Dari kota Jundshabur, pusat ilmu pengetahuan dan filsafat pindah ke Baghdad. Pada tahun 215 H, Khalifah Al-Makmun mendirikan akademi penerjemahan yang bernama Baitul Hikmah (Al-Ahwani, 1993:32-33). Selanjutnya pada masa khalifah Harun Al-Rasyid tahun 786 M, penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab pun mulai marak (Nasution, 1990:10-11). Sejak itulah timbul filosof-filosof dan ahli ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam. Mereka itu misalnya Al-Razi dan Al-Zarkasyi dalam bidang kedokteran; Al Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dll di kalangan filsafat. Muhammad, Ahmad dan Hasan dalam bidang Matematika. Jabir dalam bidang kimia; Al-Biruni dalam bidang astronomi, geografi dan sejarah, serta Al-Haitami di bidang optika (Nasution,1990:12-13).

Kaum filosof berpegang pada pendapat yang mereka warisi dari orang Yunani bahwa alam semesta adalah qadim/ azali sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles dan Plato serta Plotinus walaupun tidak secara tegas. Menurut Plato, alam memang qadim, tetapi Tuhanlah yang mengaturnya; sekalipun pada bab lain dari Dialogue-nya, ia mengatakan bahwa "Kreator" (pencipta) itulah yang mengharapkan ide azali, kemudian Ia mencipta alam seperti ide itu (Al-Ahwani,1993:110-111). Sementara itu Plotinus menampilkan teori emanasi (pemancaran,faidh/sudur pelimpahan), semacam teori wahdatul wujud.

Jika dikaitkan dengan pandangan Islam, pendapat-pendapat di atas tentu bertentangan. Islam dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan sama sekali berbeda dengan alam. Ia maha tinggi dari segala sesuatu (QS,122). Islam menegaskan bahwa Tuhan menciptakan dari ketiadaan, dan Dia berkuasa untuk mengganti ciptaan-Nya atau mengembalikannya seperti semula (QS,39:38; 2:117; 21:16:3 ;30:8 ;11:123).

Para filosof Islam saling berbeda pendirian dalam menanggapi pendapat tersebut. Sebagian berpendapat seperti filosof Yunani bahwa alam ini qadim tetapi berusaha menafsirkannya dengan tidak mengingkari kekuasaan Tuhan yang Maha Pencipta. Sebagian mengikuti pendapat Islam bahwa alam ini tidak qadim dan tidak azali. Sebagian lainnya menganggap bahwa alam ini merupkan rangkaian kejadian yang berasal dari Zat Tuhan melalui pelimpahan "faidh/ emanasi".

Berikut akan dibicarakan berbagai pendapat filosof Islam tentang kejadian semesta alam ini antara lain oleh Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi, serta Ibnu Rusyd.

Al-Kindi yang berasal dari Kindah di Yaman tetapi lahir Kufah (irak) pada tahun 796 M (Nasution,1990:14), termasuk filosof yang menentang pendapat bahwa alam itu qadim. Beliau berpendapat bahwa alam itu berakhir (mutanahim), tidak azali. Hal itu didasarkan atas teori matematika dalam pendangannya mengenai alam semesta, beliau menampilkan teori bahwa setiap benda pasti berakhir. Demikian pula keseluruhan benda itu, yakni seluruh alam wujud. Karena setiap benda mempunyai jenis dan macam, maka benda itu tidak mungkin azali, sebab yang azali tidak berjenis. Jadi, bukan sesuatu yang azali (Al-Ahwani,1993:111). Al Kindi memandang alam ini adalah ciptaan Tuhan, tetapi tidak menerangkan bagaimana cara penciptaan itu kepada kita.

Menurut Al-Farabi (870 M,- 950 M) segala sesuatu itu keluar dari Tuhan (Yang Awal/Wujud Pertama). Jika sesuatu itu diadakan oleh Tuhan Yang Awal (Al 'awwal) maka tidak bisa tidak mengetahui zat-Nya dan mengetahui bahwa ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya. Jadi, ilmu-Nya menjadi sebab bagi wujud semua yang diketahui-Nya. Bagi Tuhan cukup dengan mengetahui zat-Nya yang menjadi sebab adanya alam agar alam ini terwujud. Jadi, dengan demikian keluarnya alam (makhluk) dari Tuhan itu tanpa gerak atau alat, karena emanasi adalah pekerjaan alam semesta (Nasution,1990:26; Hanafi,1991:92-93; Al-Ahwani,1993:113).

Eksistensi (wujud) segala sesuatu dari Yang Awal itu berlangsung secara melimpah/ faidh. Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal Pertama. Akal ini mengandung dua segi. Pertama, segi hakikatnya sendiri yaitu wujud yang mumkin. Kedua, segi lain, yaitu wujud yang nyata (wajib) yang terjadi dari Tuhan, sebagai zat yang menjadikan. Dari wujud yang nyata ini keluarlah Akal Kedua.dari pemikiran Akal Pertama, dalam kedudukannya sebagai Wujud yang Mumkin dan tidak mengetahui dirinya, timbullah Langit Pertama (First Heaven) atau benda langit terjauh dengan jiwannya sama sekali.

Dari Akal Kedua, timbullah Akal Ketiga dan Langit Kedua atau bintang-bintang tetap beserta jiwannya, dengan cara seperti yang terjadi pada akal pertama. Dari akal ketiga keluarlah akal keempat dan planet saturmus beserta jiwanya. Dari akal keempat keluarlah akal kelima dan planet yupiter beserta jiwanya. Dari akal kelima keluarlah akal keenam dan planet mars beserta jiwanya. Dari akal keenam lahir akal ketujuh dan matahari beserta jiwanya. Dari akal ketujuh lahir akal kedelapan dan planet venus beserta jiwanya. Dari akal kedelapan lahirlah akal kesembilan dan planet merkurius beserta jiwanya. Dari akal kesembilan keluarlah akal kesepuluh dan bulan.

Pada pemikiran akal kesepuluh, berhentilah timbulnya/ keluarnya akal-akal. Tetapi dari akal kesepuluh muncul bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur; api, air, udara, dan tanah. Akal kesepuluhlah yang mengatur dunia yang ditempati oleh manusia.

Sedang menurut Al-Farabi, alam terjadi dengan tidak melalui permulaan dalam waktu. Artinya tidak terjadi secara berangsur-angsur, tetapi sekaligus dengan tak berwaktu. Materi asal dari alam memancar dari wujud Allah. Pemancaran itu terjadi dari qadim (tak bermula). Pemancaran diartikan sebagai penjadian. Materi dan alam dijadikan tetapi mungkin sekali bersifat qadim (Nasution, 1990: 26-32: Hanafi, 1991 : 81 – 113 dan Al Ahwani, 1990 : 113 – 115). Dari sini tampak bahwa pemikiran Al- Farabi ini berpijak pada aliran Neo Platonisme dengan teori emanasinya.

Sedangkan menurut Ibnu Sina yang nama lengkapnya Ali Abu Huseein Ibnu Abdillah Ibnu Sina (1037 M) Tuhan memancar dari Akal Pertama. Dari Akal Pertama memancar Akal Kedua dan langit pertama. Demikian seterusnya sehingga mencapai Akal Kesepuluh dan bumi. Dari Akal Kesepuluh memancarlah segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal Pertama itu adalah Jibril. (Nasution, 1990 : 30).

Berlainan dengan Al-Farabi, Ibnu Sina mengatakan bahwa keluarnya suatu dari yang satu itu tidak secara "tiga-tiga". Pertama Akal Pertama mengerti akan dirinya yaitu Tuhan, maka terjadilah "akal" di bawahnya yang kedudukannta lebih rendah dari pada Akal Pertama. Kedua, karena akal yang lebih rendah itu mengerti akan zatnya sendiri maka terjadilah "cakrawala tertinggi" (al-falaqul-aqsa) yang kesempurnaannya berupa jiwa ( an-nafs, soul). Ketiga, karena watak yang memungkinkan terjadinya eksistensi yang lebih rendah sebagai hasil dari pengertian akan zatnya sendiri maka terjadilah " cakrawala tertinggi" ( al-falaqul-aqsa) (lihat al-Ahwani, 1993 : 116 ; Nasution, 1990 : 34-38).

Dengan demikian dari "Akal" keluarlah tiga eksistensi yaitu : Akal, jiwa (nafs, soul) dan jisim (materi). Ibnu Sina menyesuaikan istilah filsafat dengan istilah agama. Dalam risalahnya yang berjudul
Ma'rifat al-Nafs an-'Natiqah, sebagaimana dikutip Al-Ahwani (1993 : 116), ia mengatakan :

"Akal mempunyai tiga daya pengertian. Pertama, ia mengerti akan penciptanya, yaitu Tuhan. Kedua, ia mengerti akan zatnyasendiri mempunyai kewajiban terhadap Al-Awwal , yakni Tuhan. Ketiga, ia mengerti akan kemungkinan yang ada pada zatnya sendiri. Dari pengertian Penciptanya, akal itu menghasilkan akal pula, yaitu substansi akal lain, tak ubahnya seperti sinar yang memantulkan sinar lainnya. Dari pengertian akan zatnya sendiri yang mempunyai kewajiban terhadap Al-Awwal, (tuhan) terjadilah al-Nafs (jiwa), yang juga merupakan substansi rohani seperti akal, tetapi menurut urutan ia lebih rendah. Dari pengertian akan kemungkinan yang ada pad zatnya sendiri terjadilah substansi kebendaan (jasmani, fisik) yaitu al-Falaq al-Aqsa (Cakrawala Tertinggi).

Al-Falak al Aqsa itu adalah juga Al-Falak al-Atlas yang di dalam istilah agama dikenal sebagai Al-Arsy. Akal kesepulah disebut juga Akal Efektif (Al-Aql-Fa'al), sebagai pemberi bentuk (wahib as-Suwar) yaitu Ar-Ruhul-Amin, Jibril dan An-Namus al-Akbar.

Dari Al-Wajib al-wujud turun secara berurutan beberapa eksistensi (wujud) hingga sampai ke Akal Kesepuluh dan planet bulan. Dari sini timbullah alam unsur, yaitu alam kaun wal-fasad (Alam Kejadian dan kerusakan, alam dunia) dengan empat unsur tersebut terjadilah benda-benda logam yang kemudian meningkat menjadi tumbuh-tumbuhan. Selanjutnya meningkat menjadi hewan. Akhirnya meningkatlah menjadi manusia sebagai hewan yang paling sempurna (Nasution, 1990 : 34-40 ; Hanafi, 1991 :115-133 ; dan Al-Ahwani 115-117).

Sementara itu pendapat Ibnu Rusyd (1126 M-1198 M) tentang alam semesta lebih dekat pada pendapat Aristoteles. Menurutnya, alam seluruhnya dan benda-benda alam yang bersifat partial tersusun dari dua elemen yang saling berlawanan, yaitu materi dan bentuk. Hayula (primordial Matter / materi purba) tidak mungkin timbul dari bentuk. Hal itu disebabkan adanya penafsiran dari sesuatu yang wujud, terutama yang konkrit, tidak mungkin dapat dilakukan kecuali berdasarkan dua elemen, yaitu elemen materi dan elemen bentuk. Jika ada suatu wujud yang berupa "gambaran" semata-mata dan berupa fi'il semurni-murninya, ia dapat ditafsirkan dengan satu 'illah, yaitu 'illah suwariyyah (formal-cause), dan itu hanya Tuhan saja. Sedangkan alam mesti ditafsirkan dengan dua 'illah. (Al-Ahwani (1993 : 117)

Segala sesuatu yang mempunyai eksistensi kongkrit, yang terjadi kemudian rusak di alam wujud, semuanya terdiri dari materi dan bentuk. Terjadinya pun dari benda-benda serupa. Jadi, benda adalah asal terjadinya segala sesuatu yang berwujud. Dalam kaitannya tentang apakah alam ini qadim atau baru, ia mengambil sikap tengah-tengah. Ia mengambil permasalahan itu dalam tiga golongan berdasarkan tiga jenis yang terdapat didalam alam wujud. Ketiganya itu adalah :

1.
Semua eksistensi kongkrit yang bersifat partial seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, logam dan semua benda yang serupa adalah baru, karena keberadaannya berasal dari zat lain.

2.
Suatu wujud yang tidak terjadi dari sesuatu dan tidak berasal dari sesuatu serta tidak didahului waktu. Ia adalah qadim. Sesuatu itu adalah Allah, karena dialah pembuat segalanya.

3.
Sesuatu yang berada di antara keduanya, yaitu ada yang tidak berasal dari sesuatudan tidak di dahului waktu, tetapi ia dari sesuatu, yaitu dari Fa'il.

Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa keberadaan alam itu menurut Ibnu Sina, berasal dari "sesuatu" yaitu Fa'il. Fa'il itu adalah Tuhan sebagai "penggerak Alam". Sebagai penggerak, Dia tidak bergerak, tetapi menggerakkan alam melalui zhauq (hasrat atau kerinduan), bukan melalui perbuatan sebenarnya. Alamlah yang rindu kepada Tuhan, karenanya ia lalu bergerak (Nasution, 1990 : 47-54 dan Hanafi, 1991 : 165-192).

E.
Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Qur'an

Berbicara mengenai penciptaan alam semesta dengan segala aspeknya, Al-qur'an telah menyinggungnya dalam berbagai ayat. Menurut Al Qur'an, alam ini tidak ada dengan sendirinya tetapi diciptakan oleh Allah dengan cara yang teratur dan dengan tujuan yang benar (haq), bukan main-main tanpa tujuan (QS, 44 : 38).

Pada mulanya alam semesta ini berbentuk asap atau gas / dukhan (QS, 41 : 11-12) untuk kemudian bercerai / berpisah membentuk benda-benda langit seperti bintang-bintang, matahari, planet-planet, bumi dan bulan (Djaelani, 1993 : 75).

Proses penciptaan alam semesta ini terjadi dalam masa enam hari (masa, era) (QS, Hud :7 dan Al- Furqan : 59). Pengertian hari (yaum) di dalam Al Qur'an bisa berarti seribu tahun harinya manusia (QS, Al Haj : 47) atau bisa juga sama dengan lima puluh ribu tahun menurut ukuran manusia (QS, Al-Ma'arij : 4). Jadi satu harinya Tuhan bisa berarti jutaan tahun. Jika waktu enam hari (masa) ini kita kaitkan dengan teori Palaentologi yang menyatakan bahwa periodisasi pertumbuhan planet bumi ini terbagi atas enam periode yaitu : Azoicum, Exchoicum, Protorozoikum, Mezosoikum dan Cenozoikum (Kusumamihar-dja, et. All. 1978:-63). Bila kata hari (yaum) ditafsirkan secara metaforik sebagai tingkatan-tingkatan perubahan waktu, maka pemetaan konformal dari era (masa) proses terjadinya alam semesta dapat disamakan dengan evaluasi alam semesta dari teori Big-Bang (ledakan dashyat), juga sama dengan waktu kosmologi yang berjumlah enam, yaitu Era Planck, Era Hadron, Era Lepton, Era radiasi, era pembentukkan Protogalaksi (Djay,1990:18).

Dalam penciptaan alam semesta ini Al Qur'an menyiratkan kepada kita bahwa air adalah molekul yang pertama terjadi dalam proses molekulosynthese di alam semesta. Peristiwa itu terjadi sewaktu gaya elektro-magnetik sudah menunjukkan watak sendiri setelah umur alam semestamencapai 700.000 tahun yang dikenal sebagai "waktu rekombinasi". Peranan air dalam proses biologis dan biokimiawi sudah banyak dipahami dan dijelaskan dalam banyak literatur (Djay, 1990:16-17).

Di dalam penciptaan alam semesta ini Tuhan telah pula memberikan undang-undang / hukum alam semesta (sunnatullah). Hukum yang mengatur alam semesta ini bersifat pasti dan tetap yang dalam istilah al-Quran disebut takdir atau qadar, artinya sesuai ukuran yang persis dan pasti (QS, Muhammad:2).

Alam semesta ini terus mengembang atau berekspansi ke seluruh arah dalam ruang yang seolah-olah tanpa batas. Artinya alam semesta ini dalam proses menjadi (QS Fatir: 1; Al-Ankabut:20). Gerak dan dorongan yang penuh keajaiban dalam perjalanan alam semesta itu adalah sebagai tanda-tanda yang aneh yang seharusnya menjadi bahan pemikiran manusia yang berakal (QS, An-Nur: 44; An Nah: 12).

Walaupun alam terus berekspansi, namun pada akhirnya ia akan hancur/ musnah atas kehendak Tuhan rabbul-'alamin/ semesta alam sebagaiman disebutkan misalnya di dalam QS, Al-Haqqah: 13-16 dan surat Al-Mursalat: 8-10. Jadi alam tidaklah abadi. Hal ini dibuktikan sebagaimana hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro padda awal Juni 1992 bahwa dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang tumbuh dikawasan hutan sebanyak 200.000.000 hektar telah musnah. Di samping itu 20.000 species binatang dan tumbuhan yang hidup didekat (bersama-sama) manusia telah lenyap (Tempo, 13 Juni 1992: 52-54). Juga sebuah seminar tentang teori evolusi organik di Chicago AS pada bulan Oktober 1980 dilaporkan bahwa berdasarkan penyelidikan fosil selama beratus-ratus tahun terbukti bahwa berbagai species kehidupan muncul secara mendadak pada suatu ketika pada kurun waktu geologis, bertahan selama berjuta tahun tanpa perubahan lalu punah (Tempo, 27 Oktober 1980: 23).

Dari uraian di atas kita ketahui bahwa ternyata ada persesuaian antara proses terjadinya alam semesta menurut Al-Qur'an dengan teori ilmu pengetahuan, misalnya dengan teori Big-Bang (Kusumamiharja et all, 1978: 54-55).

F.
Kejadian Alam Semesta Menurut Konsep India (Agama Hindu)

Agama Brahma, yang pada masa belakangan disebut dengan agama Hindu, bermula dengan keyakinan terhadap kodrat Maha Tunggal (Brahma). Tetapi belakangan agama Hindu berbalik dari keyakinan Monotheisme kepada Politheisme, yakni berbalik menganut keyakinan tentang sekian banyak dewa-dewa seperti terdapat di dalam kisah-kisah Mahabhrata dan kisah Ramayana, yang merupakan kitab terpandang dalam agama Hindu.

Kitab suci yang asli dalam agama Brahma itu ialah Veda yang berasal dari vydia
(ilmu) yang terdiri atas empat bagian yaitu"

1.
Rig-veda,

2.
Sama-veda,

3.
Yayur-veda,

4.
Atharva-veda.

Pembahasan bidang pokok-pokok keyakina / kepercayaan (akidah) dari Veda terdapat dalam himpunan Upanishads. Menjelang abad IX M, jumlah Upanishads itu telah mencapai 108 buah. Pada akhir abad IX itu muncul seorang pembaharu yang bernama Shankara yang mendapat sentuhan-sentuhan agama Islam, ketika Agama Islam menguasai anak benua India pada waktu itu (Syo'ib, 1988:8-9). Shankara melakukan penelitian terhadap ke-108 buah Upanishads. Dari sejumlah 108 buah itu hanya mengakui 16 buah yang otentik, selebihnya dinyatakan sisipan pada masa belakangan.

Ajaran Upanishads tentang Tuhan dan Alam, biasanya disebut filsafat Upanishads, merupakan sumber terkuat bagi pertumbuhan dan perkembangan mistik. Bahkan filsafat Plotinus (205-270 M) tentang Tuhan dan Alam yang pengaruhnya kuat terhadap agama Kristen dan dunia Islam dinyatakan terpengaruh oleh filsafat Timur oleh ahli sejarah Filsafat. Pertama, tentang kepercayaan terhadap kodrat Maha Tunggal. Kedua, kepercayaan bahwa Alam itu pancaran Zat Tuhan (Syou'ib, 1988:9).

Berikut ini kita lihat beberapa kutipan dari Upanishads:

Sungguh, alam semesta ini berasal dari Brahman. Di dalam brahman, ia hidup dan beroleh perwujudannya. Pasti, seluruhnya adalah Brahman. Biarlah seseorang terbebas dari cemar nafsu, menyembah Brahman saja (Upanishads, Chandoya).

Pada mula sesekali berada Maha Ada sendirian, Mahaesa tanpa ada yang kedua. Dia, yang Mahaesa, berpikir terhadap diri-Nya: Biarlah Aku menjadi banyak, biarlah Aku berkembang. Lantas dari zat-Nya sendiri. Dia melantunkan alam semesta dari zat-Nya sendiri, ia pun masuk ke dalam setiap ada (Upanishads, Chandogya).

Dia, zat yang cemerlang, lebih halus dari yang paling halus, yang di dalam-Nya berada alam semesta dan seluruh mahluk yang hidup di dalamnya. Dia itu Brahman yang tidak lenyap. Dia itu prinsip kehidupan. Dia itu berbicara. Dia itu ingatan. Capailah Dia, O sahabatku, tujuan satu-satunya yang perlu dicapai (Upanishads, Mundaka).

Brahman itu Maha Agung; Dia itu zat yang cemerlang, Dia itu di luar seluruh pemikiran. Dia itu lebih halus dari yang paling halus, lebih jauh dari yang paling jauh, lebih dekat dari yang paling dekat. Dia bersemayam dala seroja hati seriap mahluk (Upanishads, Mundaka).

Brahman ini, zat ini, tersembunyi amat dalam sekali di dalam seluruh mahluk, tidak di wahyukan kepada seluruhnya; tetapi hanya kepada orang suci, yang hatinya murni, memusatkan ingatan kepadanya saja. Dia diwahyukan. Iandria orang cendikiawan tunduk kepada ingatannya, dan ingatannya tunduk kepada akalnya, dan akalnya tunduk kepada aku-nya, dan aku-nya itu tunduk kepada Dia (Upanishads, Katha).

Di dalam filsafat Hindu, faham emanasi tertuang di dalam kitab Upanishad
(kitab kedua dalam agam Hindu). Kitab itu memberi gambaran tentang terjadinya alam semesta. Dinyatakan bahwa alam semesta ini oleh Brahman (Ada Tertinggi, Tuhan) ditimbulkan oleh unsur-unsur semesta itu sendiri sambil melakukan tapas, lalu masuk ke dalam semesta itu (Tait, Up.2.6). Di lain tempat dikatakan bahwa semesta ini terjadi karena sabda dari Dia Yang Tak Terumuskan (Brihad, Up.3.9).

Di dalam Mundaka Upanishad, Brahma itu diumpamakan sebagai seekor laba-laba yang mengeluarkan benang-benangnya lalu ditariknya kembali atau dengan rambut yang tumbuh di kulit badan atau dengan percikan-percikan api yang dipancarkan oleh api. Di dalam pandangan ini dunia merupakan emanasi dari Brahman (Zotmulder, 1991:60).

G.
Kejadian Alam Semesta dalam Konsep Nasrani

Menurut kepercayaan kaum Nasrani, alam ini diciptakan Tuhan Allah selama enam hari dengan perantaraan Firman-Nya. Dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (1962) terdapat pernyataan bahwa yang pertama dijadikan Allah adalah langit dan bumi. Pada saat itu keadaan bumi tertutup kabut tebal danRoh Allah melayang-layang di atas muka air (Pasal 1, ayat 1-2).

Pada hari pertama Allah membuat terang dan gelap sebagai penanda adanya siang dan malam (Pasal 1: 3-5). Selanjutnya di hari kedua barulah dicipta langit yan membentang di antara air (Pasal 1: 6-7). Pada hari ketiga Allah membuat daratan dan lautan serta menciptakan rumput, tumbuh-tumbuhan berbiji dan berbuah dengan segala tabiatnya (Pasal 1: 9-13).

Selanjutnya di hari keempat, baru diciptakan matahari, bulan dan bintang (Pasal 1: 14-19). Pada hari kelima Allah menciptakan binatang-binatang laut dan burung-burung (Pasal 1: 20-23). Sedangkan pada hari keenam diciptakan binatang liara dengan segala tabiatnya. Pada hari keenam ini pula manusia laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai atas peta Allah. Segala isi bumi ini diperuntukkan bagi manusia (Pasal 1: 24-31).

Pada hari ketujuh Allah beristirahat (Pasal II: 1-4). Kata beristirahatlah pada pasal II itu sebagai terjemahan dari bahas Ibrani "chabbat" (Sabat). Sampai hari ini p[un hari sabtu merupakan hari libur/istirahat bagi kaum Yahudi (Buchaile, 1978:42).

Terlepas dari kontradiksinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, demikianlah adanya bagaimana Injil Perjanjian Lama menerangkan tentang proses kejadian alam ini. Dr. Mauriche Buchaile di dalam La Bible, le Coran et La science telah mengupas banyak hal mengenai proses terjadinya alam ini berdasarkan ilmu pengetahuan dan yang dikontrakan dengan Al Qur'an dan Bibel.

Dalam agama Kristen yang berpaham Trinitas (Katritunggalan Tuhan) terdapat kaitan dengan filsafat neo-Platonisme dan paham Nur Muhammad. Pada Injil Yahya 1:1-3 dan 14 disebutkan:

"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebesaran (Lembaga Alkitab Indonesia, 1971:181).

Dalam kutipan dari Injil Yahya (Yohanes) itu disebutkan bahwa Anak (Yesus) sudah ada sebelum dunia ada, yaitu yang disebut dengan Firman (Kalam). Bila Kalam (Firman) itu tidak ada maka dunia ini pun tidak ada. Ini adalah konsepsi Neo-Platonis. Firman / Kalam dalam Injil Yahya tersebut di dalam Al Kitab bahasa Yunani (Greek) dengan Logos. Tentang hal ini dalam buku Karena Allah itu Benar Adanya yang dikeluarkan oleh Kristen sekte Saksi Yehova menyatakan bahwa Kalam atau Logos yang disebut dalam Injil Yahya itu berkuasa dan menjabat kedudukan yang tinggi ini sebagai Logos. Sebab ia adalah mahluk yang pertama dari semua mahluk lain, maka ia adalah suatu Allah, tetapi bukan Allah yang amha Kuasa, yang adalah Yehuwa (1960:33).

Dalam Yahya 1:1-3 terjemahan Emphatic Diaglott tapi masih memakai kata Logos. Istilah Logos ini yang sudah masuk ke dalam Injil Yahya, yang diterjemahkan dengan Kalam/ Firman/ The Word, sebenarnya memang mengambil dari filsafat Neo-Platonisme. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh O. Hashem: "Filsafat Neo-Platonis ini telah dimasukkan ke dalam Injil Yohannes dengan mengambil istilah Logos yang berasal dari Plato…(1965: 40).

Logos dalam Injil ini juga sebagai asal segala sesuatu yang tanpa adanya tidak akan ada segala sesuatu tadi. Hal ini sejalan dengan pemikiran Nur Muhammad dan Neo-Platonis. Perbedaan ketiganya hanya dalam masalah penekanan yang tidak prisip yang disesuaikan dengan ajaran agama di mana filsafat Neo-Platonis itu merembeskan diri, namun intinya mirip (Abdullah, 1983:31).

H.
Kesimpulan

Dari pembahasan di atas kelihatan bahwa antara konsep Al Quran dengan teori ilmu pengetahuan berkenaan dengan teori kejadian alam semesta terdapat kesesuaian. Sedangkan dalam konsep filsafat Islam yang nantinya akan merembes ke dalam tasawuf falsafi agaknya bersinggungan bahkan kelihatan terdapat pengaruh konsep filsafat neo platonis, konsep Hindu dan Kristen tentang kejadian alam semesta ini.

I.
Daftar Pustaka

Abdullah, Samudi. 1982. Analisa Kritis Terhadap Tasawuf. Surabaya : PT. Bina Ilmu.

———. 1983. "Teori Penciptaan dalam Faham Wahdatul Wujud Kaum Sufi dan Kebatinan" dalam Walisongo, (No. 10. Januari 1984) : hal 21-26.

Al-Ahwani, Ahmad Fuad. 1993. Filsafat Islam. terj. Sutarji C. Bahri. Jakarta : Pustaka Firdaus.

Bakri, Hasbullah. 1968.
Di Sekitar Filsafat Skolastik Kristen. Bandung : Sulita.

———. 1986. Sistematika Filsafat. Jakarta : Wijaya.

Buchaile, Maurice. 1978. Bibel, Al-Qur'an, Sains Modern. terj. H.M. Rasyidi. Jakarta : Bulan Bintang.

Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya. Jakarta : Proyek Pengadaan Terjemahan Al Qur'an.

Djay, A Rahman. 1990. "Al Qur'an Dalam Fokus Kosmologi Modern", dalam Ulumul Qur'an (Januari-Maret). Jakarta.

Hadiwijono, Harun. tt. Kebatinan Islam Dalam Abad Enam Belas. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

——— tt. Kebatinan dan Injil cet. Kedua. Jakarta : Gunung Mulia.

Hanafi, A. 1984. Segi-Segi Kesusastraan Pada Kisah-kisah Al-Qur'an.
Jakarta : Pustaka Al-Husna.

——–. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Khan, Khan Sahib Khaja 1987. Cakrawala Tasawuf Jakarta: PT Rajawali.

Kusumamihardja, Supan, et al. 1978. Studia Islamica. Bogor : TPAI IPB.

Lembaga Al Kitab Indonesia. 1971. Berita Untuk Manusia, Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Modern. Jakarta : Lembaga AlKitab Indonesia.

Nasution, Harun. 1974. Filsafat Agama. Jakarta : Bulan Bintang.

———. 1990. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Soedewo, P.K. 1968a. Masih Hidupkah Nabi Isa dengan Badan Jasmaninya Di Langit ? Yogyakarta : Kalimasada.

———. 1968b. Keesaan Ilahi. Jakarta : Darul-Kutubil Islamiyyah.

Teeuw, A. 1978. Penelitian Struktur Sastra. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

———. 1981. "Ilmu Sastra Umum dan Ilmu Sastra Malindo". Silabus Kuliah.

———. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta : Gramedia.

Tempo, Jakarta 13 Juni 1992, hal 52-54.

———-, Jakarta 27 Oktober 1980, hal 23.

Titus, Harold H, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan. 1984. Persoalan-persoalan Filsafat. Jakarta : Bulan Bintang.

Zahrah, Syekh Abu. 1969. Tinjauan Tentang Agama Masehi terj. A. Hanafi. M.A. Solo : A.B Siti Syamsiyyah.

Zoetmulder, P.J. 1990. Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta: Gramedia

http://staff.undip.ac.id/sastra/fauzan/2012/01/15/teori-nur-muhammad-dan-teori-kejadian-alam-semesta/

 
- See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-kotak-komentar-keren-di_8.html#sthash.EUwZAfey.dpuf